
Gunung Bromo yang terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengalami erupsi mendadak pada Kamis (5/11/2026) petang pukul 17.11 WIB. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat letusan tersebut memuntahkan kolom abu vulkanik hingga ketinggian 500 meter di atas puncak gunung, atau setara dengan 2.829 meter di atas permukaan laut (mdpl). Erupsi ini menjadi aktivitas vulkanik signifikan pertama yang tampak secara visual setelah letusan terakhir yang terekam pada kurun waktu pertengahan Juli 2019.
Aktivitas vulkanik terkini ini langsung memicu respons kesiapsiagaan dari otoritas kebencanaan dan penanganan darurat setempat. Petugas Pos Pengamatan Gunung Bromo, Budi Marwanto, mengonfirmasi bahwa sebaran abu vulkanik yang membumbung tinggi dari kawah terpantau berwarna kelabu dengan konsentrasi ketebalan tipis hingga tebal. Berdasarkan pengamatan meteorologis di lokasi kejadian, pergerakan awan abu tersebut bergerak dominan mengarah ke sisi barat kawasan pegunungan.
Berdasarkan pencatatan instrumen pendeteksi gempa atau seismograf di pos pengamatan, aktivitas erupsi petang tersebut terekam memiliki amplitudo maksimum sebesar 23 milimeter. Durasi gempa letusan berlangsung selama 46 detik. Meskipun skala letusan tergolong sedang, kondisi ini menegaskan dinamika vulkanik di dalam kawah Bromo yang masih sangat aktif. Catatan ini berbeda dengan peristiwa pada 19 Juli 2019, di mana saat itu letusan tidak terpantau secara visual namun terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 37 milimeter selama 434 detik.
Menyusul peristiwa letusan tersebut, status aktivitas Gunung Bromo masih dipertahankan pada Level II atau tingkat Waspada. Guna mengantisipasi risiko keselamatan jiwa, PVMBG secara resmi menerbitkan rekomendasi agar seluruh warga lokal, pelaku usaha komersial, pendaki, maupun wisatawan domestik dan asing dilarang mendekati area kawah aktif dalam radius aman minimal satu kilometer. Pengetatan ini dilakukan demi menghindari bahaya lontaran material letusan freatik yang kerap terjadi secara mendadak tanpa menunjukkan gejala awal yang jelas.
Pemerintah Daerah melalui Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif, memastikan pihak kepolisian dan petugas lapangan telah berkoordinasi penuh untuk mengamankan batas radius aman. Oemar mengimbau kepada masyarakat di sekitar kawasan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru agar tetap tenang, tidak termakan isu liar, dan selalu mematuhi instruksi resmi petugas lapangan demi keselamatan bersama selama masa evaluasi erupsi berlangsung.






