
Menteri Hubungan dan Kerja Sama Internasional Afrika Selatan Ronald Lamola menilai perluasan keanggotaan BRICS dapat menjadi peluang bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat suara kolektif dalam berbagai agenda global.
Lamola mengatakan bertambahnya anggota BRICS memang dapat menghadirkan tantangan dalam membangun kesepakatan. Namun, jumlah anggota yang lebih besar juga membuka ruang bagi semakin banyak negara untuk menyampaikan pandangan dan memperkuat posisi kelompok dalam isu internasional.
“Selalu ada tantangan ketika kelompok ini semakin besar, tetapi hal itu juga dapat menjadi peluang karena berarti lebih banyak negara memiliki suara dan dapat membantu memajukan pesan yang kami usung,” kata Lamola dalam wawancara dengan South African Government News Agency menjelang KTT BRICS ke-18 di New Delhi, Jumat.
Menurut Lamola, negara-negara anggota BRICS memiliki sejumlah kesamaan pandangan mengenai berbagai prioritas utama. Salah satu agenda yang menjadi perhatian bersama adalah reformasi arsitektur keuangan global agar lebih mencerminkan kepentingan negara-negara berkembang.
Selain itu, BRICS juga memiliki kepentingan bersama dalam mendorong reformasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta menghadapi tantangan perubahan iklim.
Lamola menilai perluasan kelompok dapat membantu memperkuat posisi BRICS dalam mendorong perubahan terhadap lembaga-lembaga global. Dengan lebih banyak negara terlibat, kelompok tersebut dinilai memiliki ruang lebih besar untuk membangun konsensus mengenai berbagai agenda yang menyangkut kepentingan negara berkembang.
Meski demikian, ia mengakui bahwa BRICS belum memiliki kesepakatan bersama mengenai konflik Israel-Iran. Perbedaan pandangan tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi kelompok dengan keanggotaan yang semakin luas.
Lamola berharap KTT BRICS ke-18 tetap dapat menjadi forum untuk memperkuat dukungan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional yang selama ini diperjuangkan. Hal tersebut mencakup penghormatan terhadap kedaulatan negara, integritas wilayah, serta penyelesaian konflik secara damai melalui dialog.
Menurutnya, prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam PBB tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun pemahaman bersama di tengah perbedaan kepentingan antarnegara anggota.






